AB & PartnersLaw Office
ID EN

Legal update · Ketenagakerjaan & Hubungan Industrial

Prosedur PHK Karyawan Sesuai UU Cipta Kerja 2026: Panduan Lengkap

Oleh Jaka Margana · 13 September 2026
Prosedur PHK Karyawan Sesuai UU Cipta Kerja 2026: Panduan Lengkap

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah keputusan paling berat bagi perusahaan. Di Indonesia, UU Cipta Kerja (UU 2/2022 Pengganti Perppu 2/2022) dan PP 35/2021 mengatur prosedur ketat. Salah satu langkah—misalnya lewat pemberitahuan 14 hari—bisa bikin PHK jadi batal demi hukum, serta perusahaan wajib bayar upah proses dan kompensasi tambahan.

Dasar hukum utama: UU 13/2003 Ketenagakerjaan (sebagaimana diubah UU 2/2022), PP 35/2021 tentang PHK, PP 36/2021 tentang Upah. Prinsip utamanya: PHK harus dihindari sebisa mungkin dan jadi langkah terakhir kalo hubungan kerja memang gak bisa dipertahankan.

15 alasan sah PHK (Pasal 153 UU Ketenagakerjaan + UU Cipta Kerja): (a) Merger/akuisisi & pekerja tdk mau lanjut

Prosedur wajib: (1) Surat pemberitahuan PHK minimal 14 hari kerja sebelum efektif (7 hari probation), wajib cantumkan alasan spesifik

Kompensasi (PP 35/2021 + PP 36/2021): Uang Pesangon (UP) = 1 bln upah per thn kerja

Larangan mutlak PHK: sakit ≤12 bln (surat dokter), cuti, hamil/melahirkan/menyusui, kewajiban negara, aktivitas serikat, whistleblowing. Pelanggaran = PHK BATAL DEMI HUKUM (Pasal 154). Risiko: wajib rekruten + upah proses (gaji penuh selama sengketa) + kompensasi tambahan + sanksi pidana pengurus (penjara 1 thn/denda Rp100jt).

Tips praktis: Siapkan prosedur internal sejalan UU, dokumentasikan alasan dari awal (laporan keuangan, SP), hitung kompensasi tepat sebelum kirim surat, konsultasi hukum sebelum keputusan (biaya konsultan << upah proses), prioritaskan musyawarah (homologasi PHI lebih cepat & murah), jangan PHK saat karyawan sakit/cuti/hamil.

Bahwa setiap artikel yang dipublikasikan merupakan opini hukum, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti dalam proses hukum apa pun.